Tak genap 2 hari, sekitar 25 jam, waktu yang begitu bermakna, berkesan, dan mampu membuka lebar pikiran, hati dan perasaanku. Seakan-akan selama ini aku terperosok dalam jurang dan berjalan dengan tirai yang selalu mengikuti. Tetes demi tetes air mengalir tanpa permisi, membasahi pipi yang tiba-tiba terdiam dan perlahan mengikuti gerakan mulut yang sedang menggiling.
Sore itu, sekitar 17.10 WIB, aku tiba di rumah dengan seorang sahabat yang berniat menginap. Bagiku tak ada yang aneh, suasana yang ada sama seperti hari-hari ketika aku pulang. Sepi, sunyi, tak banyak keramaian, hanya lalu lalang kendaraan di depan rumah. Kami masuk perlahan sambil mengucap salam,
"Assalamu'alaikum". Bapakku yang sedang duduk menikmati acara televisi tidak mendengar salamku,
"Assalamu'alaikum, Pak"
"Wa'alaikumsalam, ooh wes teko to? Monggo-monggo pinarak"
sambil melihat kearah sahabatku yang berada di belakangku. Kami pun langsung menuju kamar, meletakkan barang bawaan kami, dan Ibu pun datang dari arah dapur.
"Lho, wes teko nak? endi cacak e? gak bareng ta?"
"mboten, Mak. Sanjange cacak tasek ruwet. Niki wau ndugi prapatan terus ngojek"
"ooh yowes, pek no ngumbe mbak e iku, iki onok pelem, koncekno pisan nang mbale kono"
"nggeh"
sahabatku dan aku pun pergi ruang tamu. Saat aku mulai mengupas mangga, Ibu menyusul dan ikut duduk di ruang tamu. Seperti biasa, Ibu selalu menanyakan siapa nama sahabatku, asalnya darimana, dan pertanyaan-pertanyaan lain sebagai bentuk perkenalan. Suasana sore yang dingin dan mendung, ruang tamu pun kemudian hening. Tiba-tiba sahabatku memulai percakapan.
"Sepi nggeh, Bu"
"Nggeh ngeten niki, Nak. Mangke kersane Santi nutuk aken kuliahe, dituwuk2ne kale rencange. Lek pun, nggeh kersane teng nggriyo."
Aku tak merasakan ada yang aneh dengan percakapan itu, tapi tiba-tiba sahabatku menatapku dengan tatapan iba, sedih, harap, dan penuh tanda tanya.
"lo? pean kenapa? ada apa? ni mangganya udah tak kupasin"
pertanyaanku berhenti karena ada panggilan yang harus segera dilaksanakan, Magrib.
Selesai mandi, sholat, akupun mengajak sahabatku istirahat karena perjalanan sore tadi cukup melelahkan. Singkat cerita, ibuku memintaku untuk mengajak sahabatku makan. Di meja makan cuma kami berdua karena ibu dan bapak sudah selesai makan duluan. Sambil makan, kamipun melanjutkan percakapan tadi sore. Aku bercerita tentang salah seorang saudara temanku yang kuwalahan mendidik anaknya yang baru berusia 6 tahun. Karena saking nakalnya, tidak jarang orangtuanya mendidik dengan cara keras. Tidak bagus memang, tapi kedua orangtuanya bingung harus seperti apa mendidik anaknya yang tiap kali berbohong saat ditanya kejelasan kesalahan yang ia perbuat. Sahabatku pun mulai menceritakan berdasarkan pengalamannya. Dia pernah bercerita pada kedua orangtuanya mengenai kekhawatiran mendidik anaknya kelak. Takut jika dia merasa kuwalahan dan kerepotan saat mendidik. Orangtuanya menjawab dan mengatakan bahwa pepatah "buah jatuh tak jauh dari pohonnya" itu benar adanya. Jika ada orangtua yang merasa kuwalahan saat mendidik anak, hal pertama yang harus dikoreksi adalah bagaimana sikap dan sopan santunnya ia pada orangtuanya dulu ketika belum berumah tangga? pernahkah membuat orangtuanya sakit hati? pernahkah membuat keduanya marah? sedih? terlebih pernahkah menyakiti hati seorang Ibu?. Aku terdiam, mengoreksi diri sendiri. Mengingat-ingat apakah aku sendiri pernah menyakiti orangtuaku terlebih ibuku yang entah itu aku sengaja atau tidak. Dan aku memadumadankan cerita sahabatku dengan cerita tentang saudara dari temanku. Benar, dan aku mengiyakan perkataan sahabatku. Mungkin karena kesalahan semasa lajang terutama yang berhubungan dengan orangtua, sedikit banyak berpengaruh terhadap kehidupannya kelak ketika berumahtangga. Jika semasa lajang tak pernah menyakiti hati orangtua, insya Allah dan bisa dipastikan kehidupannya lancar, terutama saat mendidik anak. Dan hal ini berlaku biimplikasi. Subhanallah, Maha Besar Allah. Segala perbuatan, sekecil apapun itu, baik maupun buruk, pasti ada balasannya. Jika balasan itu tidak langsung menimpanya, balasan itu akan diterima oleh generasi selanjutnya. Dan begitu seterusnya.
Sepanjang kami bercerita, air mata ini tak henti-hentinya mengalir. Mengingat dan menyesali kalau-kalau ada perbuatan yang selama ini mungkin aku sengaja atau tidak, telah menyakiti hati ibu bapakku. Makanan yang ada dihadapanku pun terasa hambar. Tak berasa apa-apa. Allah Ya Karim, betapa ku ingin membalas semua kasih sayang yang ibu bapak beri. Ceritapun beralih ke pertanyaanku tadi sore. Kenapa tiba-tiba sahabatku bertanya demikian? ada apa gerangan?. Terliahat bahwa sahabatku mulai menata kata demi kata yang ingin ia sampaikan.
"sampean gak merasa rumah ini sepi?"
"iya, memang sepi, tiap hari kayak gini, apalagi nanti kalo aku udah balik ke kota"
"ya, baru pertama masuk tadi, aku merasa rumah ini sepi. Ditambah suasana lingkungannya yang memang sepi. Tapi, rumah ini memang sepi."
sepintas tak ada yang aneh dengan ucapan sahabatku itu. Lama-lama akupun mulai menangkap apa yang hendak ia sampaikan untukku.
Di rumah cuma ada bapak dan ibuku. Sesekali keponakanku datang untuk meramaikan rumah dengan tingkahnya. Saat aku pulang pun masih tetap sama, sepi, hanya ada sedikit obrolan yang biasa kami lakukan. Curhat Ibu tentang aktivitasnya sehari-hari. Begitu juga Bapak. Saat aku mulai mencerna apa yang aku pikirkan. Aku menatap wajah sahabatku,
"mbak, Ibu Bapakku merasa sepi, hanya TV yang bisa menghibur Ibu Bapak melepas lelah selesai bekerja dari pagi sampai sore"
Saat itu juga airmata ku mengalir tak tertahankan. Sahabatku pun ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orangtua ku. Bagaimana tidak, aku sebagai anak terakhir, meninggalkan orangtua ku yang cuma berdua, demi menuntut ilmu. Aku pun mulai menceritakan perbedaan sikap kedua orangtuaku sebelum dan sesudah aku merantau ke kota untuk kuliahku. Dulu, semasa aku masih duduk dibangku sekolah, orangtuaku tidak segan-segan menyuruhku kesana, kemari, bahkan tidak jarang memarahiku saat aku bangun kesiangan, tidak segera membersihkan rumah, lupa mencuci piring, tidak ikut membantu bapak di sawah. Tapi, semenjak aku ke kota, jarang pulang, tiap kali pulang orangtua ku menyambut dengan begitu senangnya. Dibuatkannya aku makanan kesukaanku, dibelikan aku jajanan ini itu, disuruhnya aku istirahat, ditawarinya aku makanan ini itu, dibiarkannya aku tidur sepulasku, dan begitu sibuknya ibu bapak ku menyiapkan bekal untuk perjalananku balik ke kota. Aneh. Jelas sangat aneh. Ini bukan ibu bapak yang aku kenal dulu. Ibu bapak ku tak seperti ini. Aku kangen ibuku yang cerewet, kangen bapak ku yang marah-marah. Ada apa gerangan? Aku ke kota hanya untuk mencari Ilmu.
Dan sejak malam itu, aku temukan jawabannya. Betapa Ibu dan Bapakku merasa kesepian. Betapa ibu dan bapak ku menginginkan aku disisinya. Betapa Ibu dan Bapak ku menyayangiku. Aku tak bisa menahan tangisku. Aku menjerit dalam hati sembari berkata. Aku belum siap jika harus kehilangan mereka. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku disampingnya. Aku ingin mengabdikan jiwa ragaku hanya untuk membahagiakannya. Aku ingin bertekuk lutut dihadapannya dan memohon maaf betapa selama ini aku belum bisa menjadi anak yang baik. Belum bisa membuat mereka bahagia dan bangga. Allah Ya Karim. Apa yang selama ini aku perbuat? Apa yang selama ini aku pikirkan? Orangtuaku begitu bangga dengan prestasi yang pernah ku raih. Orangtuaku rela memberiku segalanya yang mereka miliki demi kebahagiaanku. Orangtuaku sering berbohong hanya tidak ingin terlihat capek bekerja, didepanku. Orangtuaku rela tidak makan makanan yang menurut kami itu adalah makanan enak, agar bisa cuma aku yang memakannya. Dadaku rasanya sesak, nafasku terbata-bata, ada rasa sakit yang dalam dan merasakan bahwa "This is the real of Love" sungguh, ini adalah cinta, cinta yang sesungguhnya, cinta yang tulus, cinta yang tidak pamrih, cinta yang tak pernah diungkapkan dengan kata-kata, cinta yang real yang bisa aku rasakan, cinta yang aku terima tanpa harus aku pinta sebelumnya, cinta yang selalu menguatkan, mendamaikan, dan menyejukkan. Allah Ya Robb, aku ingin diberi kesempatan untuk membahagiakan mereka, membalas semua kasih sayang yang mereka beri, menemaniku hingga akhir hayatku, dan hanya dengan mereka aku ingin disatukan kembali di surga kelak. Hingga saat ini, tak ada yang lebih baik yang aku miliki kecuali mereka di dunia ini. Ya, Ibu Bapakku tercinta.
Makan yang bisa dihabiskan dalam 10 menit saja, tapi kali ini aku habiskan selama kurang lebih 1 jam. Mencertakan kisahku, kisah sahabatku, dan betapa orangtuaku sayang padaku, merasa sepi saat aku tak di rumah. Kami belum sholat isya. Selasai makan, kami langsung wudhu dan shalat berjamaah. Sahabatku tidur lebih dulu. Dan aku, aku masih kepikiran percakapan tadi. Gak bisa tidur. Aku hampiri Ibu yang sedang istirahat di ruang tamu. Aku melihat wajahnya yang kusut, lelah karena bekerja dari pagi hingga menyiapkan makan untuk kami. Ditambah kakinya yang sakit, yang kulitnya mulai mengelupas. Aku sendiri baru tahu ada penyakit kaki seperti itu. Yang jelas, itu rasanya pasti sakit. Dan lagi-lagi, Ibuku tak pernah sambat. Waktu menunjukkan 22.30, seisi rumah mulai tidur. Ibuku masih belum beranjak dari ruang tamu. Ku tatap wajahnya. Ku pandangi tubuhnya yang mulai menua. Dan kukatakan dalam hati. "Aku sayang ibu, aku belum siap kalau harus kehilangan ibu, aku masih butuh ibu di dunia ini". Airmata pun tak terbendung lagi. Ku ambil selimut di kamar tengah. Ku selimuti tubuh ibu di malam yang cukup dingin itu. Ku temani ia di kursi panjang yang berlawanan arah dengan kursi tempat ibu tidur.
"selamat malam Ibu, semoga Allah menjagamu dalam tidurmu, semoga tidurmu dihiasi dengan mimpi-mimpi indah. aku sayang Ibu"
Beberapa jam kemudian aku terbangun. Ku lihat sekelilingku, tiba-tiba ku lihat bapak turut menemani Ibu. Bapak tidur di lantai dengan alas karpet. Aku dan Ibu tetap tidur di kursi masing-masing.
Malam itu pun berakhir ketika terdengar adzan shubuh.
entah puisi entah apa, yang jelas aku ingin menulis ini :
Bu, Pak
terima kasih yang teramat dalam atas kasih yang tak bisa kujabarkan
atas pengorbanan demi kebahagiaanku, keselamatanku, dan kesehatanku
Bu, Pak
Terima kasih karena telah merawatku dengan sangat baik
dengan penuh kasih tanpa pamrih
dengan bukti penuh cinta tanpa harus ku minta
tanpa harus diucapkan sebelumnya
Bu, Pak
mohon maaf yang teramat sangat
aku tahu bagaimana nakalku dari kecil hingga saat ini
bagaimana aku pernah menyakiti hati yang sekalipun tak pernah menyakiti ku
Ya Robb
terima kasih yang teramat sangat
Kau telah titipkan aku pada kedua insan yang berhati mulia
yang memiliki cinta dan kasih yang teramat tulus mencintai anak-anaknya
yang memberi tanpa meminta balasan
Ya Robb
aku tahu, sekeras apapun usahaku untuk membalas jasa mereka
tetap tidak akan pernah sebanding dengan apa yang telah mereka beri
tapi
aku hanya minta, sayangi mereka Ya Robb, lindungi mereka, dan ampunilah segala khilaf yang pernah mereka buat
Ya Robb
jika boleh meminta sekali lagi
izinkan aku untuk mengarungi hidup ini bersama-sama dengan mereka
di dunia dengan mereka
di akheratpun dengan mereka
Ya Robb
sebanyak apapun panjatan doa yang aku ucapkan
engkau yang lebih mengetahui
betapa aku mencintai mereka
betapa aku menyayangi mereka
betapa aku bersyukur atas adanya mereka disisiku
