Sunday, 18 November 2012

About Love, My Love, Their Love, and Our Love


Tak genap 2 hari, sekitar 25 jam, waktu yang begitu bermakna, berkesan, dan mampu membuka lebar pikiran, hati dan perasaanku. Seakan-akan selama ini aku terperosok dalam jurang dan berjalan dengan tirai yang selalu mengikuti. Tetes demi tetes air mengalir tanpa permisi, membasahi pipi yang tiba-tiba terdiam dan perlahan mengikuti gerakan mulut yang sedang menggiling. 
Sore itu, sekitar 17.10 WIB, aku tiba di rumah dengan seorang sahabat yang berniat menginap. Bagiku tak ada yang aneh, suasana yang ada sama seperti hari-hari ketika aku pulang. Sepi, sunyi, tak banyak keramaian, hanya lalu lalang kendaraan di depan rumah. Kami masuk perlahan sambil mengucap salam, 

"Assalamu'alaikum". Bapakku yang sedang duduk menikmati acara televisi tidak mendengar salamku, 

"Assalamu'alaikum, Pak"

"Wa'alaikumsalam, ooh wes teko to? Monggo-monggo pinarak"

sambil melihat kearah sahabatku yang berada di belakangku. Kami pun langsung menuju kamar, meletakkan barang bawaan kami, dan Ibu pun datang dari arah dapur.

"Lho, wes teko nak? endi cacak e? gak bareng ta?"

"mboten, Mak. Sanjange cacak tasek ruwet. Niki wau ndugi prapatan terus ngojek"

"ooh yowes, pek no ngumbe mbak e iku, iki onok pelem, koncekno pisan nang mbale kono"

"nggeh"

sahabatku dan aku pun pergi ruang tamu. Saat aku mulai mengupas mangga, Ibu menyusul dan ikut duduk di ruang tamu. Seperti biasa, Ibu selalu menanyakan siapa nama sahabatku, asalnya darimana, dan pertanyaan-pertanyaan lain sebagai bentuk perkenalan. Suasana sore yang dingin dan mendung, ruang tamu pun kemudian hening. Tiba-tiba sahabatku memulai percakapan.

"Sepi nggeh, Bu"

"Nggeh ngeten niki, Nak. Mangke kersane Santi nutuk aken kuliahe, dituwuk2ne kale rencange. Lek pun, nggeh kersane teng nggriyo."

Aku tak merasakan ada yang aneh dengan percakapan itu, tapi tiba-tiba sahabatku menatapku dengan tatapan iba, sedih, harap, dan penuh tanda tanya.

"lo? pean kenapa? ada apa? ni mangganya udah tak kupasin"

pertanyaanku berhenti karena ada panggilan yang harus segera dilaksanakan, Magrib.
Selesai mandi, sholat, akupun mengajak sahabatku istirahat karena perjalanan sore tadi cukup melelahkan. Singkat cerita, ibuku memintaku untuk mengajak sahabatku makan. Di meja makan cuma kami berdua karena ibu dan bapak sudah selesai makan duluan. Sambil makan, kamipun melanjutkan percakapan tadi sore. Aku bercerita tentang salah seorang saudara temanku yang kuwalahan mendidik anaknya yang baru berusia 6 tahun. Karena saking nakalnya, tidak jarang orangtuanya mendidik dengan cara keras. Tidak bagus memang, tapi kedua orangtuanya bingung harus seperti apa mendidik anaknya yang tiap kali berbohong saat ditanya kejelasan kesalahan yang ia perbuat. Sahabatku pun mulai menceritakan berdasarkan pengalamannya. Dia pernah bercerita pada kedua orangtuanya mengenai kekhawatiran mendidik anaknya kelak. Takut jika dia merasa kuwalahan dan kerepotan saat mendidik. Orangtuanya menjawab dan mengatakan bahwa pepatah "buah jatuh tak jauh dari pohonnya" itu benar adanya. Jika ada orangtua yang merasa kuwalahan saat mendidik anak, hal pertama yang harus dikoreksi adalah bagaimana sikap dan sopan santunnya ia pada orangtuanya dulu ketika belum berumah tangga? pernahkah membuat orangtuanya sakit hati? pernahkah membuat keduanya marah? sedih? terlebih pernahkah menyakiti hati seorang Ibu?. Aku terdiam, mengoreksi diri sendiri. Mengingat-ingat apakah aku sendiri pernah menyakiti orangtuaku terlebih ibuku yang entah itu aku sengaja atau tidak. Dan aku memadumadankan cerita sahabatku dengan cerita tentang saudara dari temanku. Benar, dan aku mengiyakan perkataan sahabatku. Mungkin karena kesalahan semasa lajang terutama yang berhubungan dengan orangtua, sedikit banyak berpengaruh terhadap kehidupannya kelak ketika berumahtangga. Jika semasa lajang tak pernah menyakiti hati orangtua, insya Allah dan bisa dipastikan kehidupannya lancar, terutama saat mendidik anak. Dan hal ini berlaku biimplikasi. Subhanallah, Maha Besar Allah. Segala perbuatan, sekecil apapun itu, baik maupun buruk, pasti ada balasannya. Jika balasan itu tidak langsung menimpanya, balasan itu akan diterima oleh generasi selanjutnya. Dan begitu seterusnya. 

Sepanjang kami bercerita, air mata ini tak henti-hentinya mengalir. Mengingat dan menyesali kalau-kalau ada perbuatan yang selama ini mungkin aku sengaja atau tidak, telah menyakiti hati ibu bapakku. Makanan yang ada dihadapanku pun terasa hambar. Tak berasa apa-apa. Allah Ya Karim, betapa ku ingin membalas semua kasih sayang yang ibu bapak beri. Ceritapun beralih ke pertanyaanku tadi sore. Kenapa tiba-tiba sahabatku bertanya demikian? ada apa gerangan?. Terliahat bahwa sahabatku mulai menata kata demi kata yang ingin ia sampaikan. 

"sampean gak merasa rumah ini sepi?"

"iya, memang sepi, tiap hari kayak gini, apalagi nanti kalo aku udah balik ke kota"

"ya, baru pertama masuk tadi, aku merasa rumah ini sepi. Ditambah suasana lingkungannya yang memang sepi. Tapi, rumah ini memang sepi."

sepintas tak ada yang aneh dengan ucapan sahabatku itu. Lama-lama akupun mulai menangkap apa yang hendak ia sampaikan untukku. 

Di rumah cuma ada bapak dan ibuku. Sesekali keponakanku datang untuk meramaikan rumah dengan tingkahnya. Saat aku pulang pun masih tetap sama, sepi, hanya ada sedikit obrolan yang biasa kami lakukan. Curhat Ibu tentang aktivitasnya sehari-hari. Begitu juga Bapak. Saat aku mulai mencerna apa yang aku pikirkan. Aku menatap wajah sahabatku, 

"mbak, Ibu Bapakku merasa sepi, hanya TV yang bisa menghibur Ibu Bapak melepas lelah selesai bekerja dari pagi sampai sore"

Saat itu juga airmata ku mengalir tak tertahankan. Sahabatku pun ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orangtua ku. Bagaimana tidak, aku sebagai anak terakhir, meninggalkan orangtua ku yang cuma berdua, demi menuntut ilmu. Aku pun mulai menceritakan perbedaan sikap kedua orangtuaku sebelum dan sesudah aku merantau ke kota untuk kuliahku. Dulu, semasa aku masih duduk dibangku sekolah, orangtuaku tidak segan-segan menyuruhku kesana, kemari, bahkan tidak jarang memarahiku saat aku bangun kesiangan, tidak segera membersihkan rumah, lupa mencuci piring, tidak ikut membantu bapak di sawah. Tapi, semenjak aku ke kota, jarang pulang, tiap kali pulang orangtua ku menyambut dengan begitu senangnya. Dibuatkannya aku makanan kesukaanku, dibelikan aku jajanan ini itu, disuruhnya aku istirahat, ditawarinya aku makanan ini itu, dibiarkannya aku tidur sepulasku, dan begitu sibuknya ibu bapak ku menyiapkan bekal untuk perjalananku balik ke kota. Aneh. Jelas sangat aneh. Ini bukan ibu bapak yang aku kenal dulu. Ibu bapak ku tak seperti ini. Aku kangen ibuku yang cerewet, kangen bapak ku yang marah-marah. Ada apa gerangan? Aku ke kota hanya untuk mencari Ilmu. 

Dan sejak malam itu, aku temukan jawabannya. Betapa Ibu dan Bapakku merasa kesepian. Betapa ibu dan bapak ku menginginkan aku disisinya. Betapa Ibu dan Bapak ku menyayangiku. Aku tak bisa menahan tangisku. Aku menjerit dalam hati sembari berkata. Aku belum siap jika harus kehilangan mereka. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku disampingnya. Aku ingin mengabdikan jiwa ragaku hanya untuk membahagiakannya. Aku ingin bertekuk lutut dihadapannya dan memohon maaf betapa selama ini aku belum bisa menjadi anak yang baik. Belum bisa membuat mereka bahagia dan bangga. Allah Ya Karim. Apa yang selama ini aku perbuat? Apa yang selama ini aku pikirkan? Orangtuaku begitu bangga dengan prestasi yang pernah ku raih. Orangtuaku rela memberiku segalanya yang mereka miliki demi kebahagiaanku. Orangtuaku sering berbohong hanya tidak ingin terlihat capek bekerja, didepanku. Orangtuaku rela tidak makan makanan yang menurut kami itu adalah makanan enak, agar bisa cuma aku yang memakannya. Dadaku rasanya sesak, nafasku terbata-bata, ada rasa sakit yang dalam dan merasakan bahwa "This is the real of Love" sungguh, ini adalah cinta, cinta yang sesungguhnya, cinta yang tulus, cinta yang tidak pamrih, cinta yang tak pernah diungkapkan dengan kata-kata, cinta yang real yang bisa aku rasakan, cinta yang aku terima tanpa harus aku pinta sebelumnya, cinta yang selalu menguatkan, mendamaikan, dan menyejukkan. Allah Ya Robb, aku ingin diberi kesempatan untuk membahagiakan mereka, membalas semua kasih sayang yang mereka beri, menemaniku hingga akhir hayatku, dan hanya dengan mereka aku ingin disatukan kembali di surga kelak. Hingga saat ini, tak ada yang lebih baik yang aku miliki kecuali mereka di dunia ini. Ya, Ibu Bapakku tercinta.

Makan yang bisa dihabiskan dalam 10 menit saja, tapi kali ini aku habiskan selama kurang lebih 1 jam. Mencertakan kisahku, kisah sahabatku, dan betapa orangtuaku sayang padaku, merasa sepi saat aku tak di rumah. Kami belum sholat isya. Selasai makan, kami langsung wudhu dan shalat berjamaah. Sahabatku tidur lebih dulu. Dan aku, aku masih kepikiran percakapan tadi. Gak bisa tidur. Aku hampiri Ibu yang sedang istirahat di ruang tamu. Aku melihat wajahnya yang kusut, lelah karena bekerja dari pagi hingga menyiapkan makan untuk kami. Ditambah kakinya yang sakit, yang kulitnya mulai mengelupas. Aku sendiri baru tahu ada penyakit kaki seperti itu. Yang jelas, itu rasanya pasti sakit. Dan lagi-lagi, Ibuku tak pernah sambat. Waktu menunjukkan 22.30, seisi rumah mulai tidur. Ibuku masih belum beranjak dari ruang tamu. Ku tatap wajahnya. Ku pandangi tubuhnya yang mulai menua. Dan kukatakan dalam hati. "Aku sayang ibu, aku belum siap kalau harus kehilangan ibu, aku masih butuh ibu di dunia ini". Airmata pun tak terbendung lagi. Ku ambil selimut di kamar tengah. Ku selimuti tubuh ibu di malam yang cukup dingin itu. Ku temani ia di kursi panjang yang berlawanan arah dengan kursi tempat ibu tidur.

"selamat malam Ibu, semoga Allah menjagamu dalam tidurmu, semoga tidurmu dihiasi dengan mimpi-mimpi indah. aku sayang Ibu"

Beberapa jam kemudian aku terbangun. Ku lihat sekelilingku, tiba-tiba ku lihat bapak turut menemani Ibu. Bapak tidur di lantai dengan alas karpet. Aku dan Ibu tetap tidur di kursi masing-masing. 
Malam itu pun berakhir ketika terdengar adzan shubuh.

entah puisi entah apa, yang jelas aku ingin menulis ini :

Bu, Pak
terima kasih yang teramat dalam atas kasih yang tak bisa kujabarkan
atas pengorbanan demi kebahagiaanku, keselamatanku, dan kesehatanku

Bu, Pak
Terima kasih karena telah merawatku dengan sangat baik
dengan penuh kasih tanpa pamrih
dengan bukti penuh cinta tanpa harus ku minta
tanpa harus diucapkan sebelumnya

Bu, Pak
mohon maaf yang teramat sangat
aku tahu bagaimana nakalku dari kecil hingga saat ini
bagaimana aku pernah menyakiti hati yang sekalipun tak pernah menyakiti ku

Ya Robb
terima kasih yang teramat sangat
Kau telah titipkan aku pada kedua insan yang berhati mulia
yang memiliki cinta dan kasih yang teramat tulus mencintai anak-anaknya
yang memberi tanpa meminta balasan

Ya Robb
aku tahu, sekeras apapun usahaku untuk membalas jasa mereka
tetap tidak akan pernah sebanding dengan apa yang telah mereka beri
tapi
aku hanya minta, sayangi mereka Ya Robb, lindungi mereka, dan ampunilah segala khilaf yang pernah mereka buat


Ya Robb
jika boleh meminta sekali lagi
izinkan aku untuk mengarungi hidup ini bersama-sama dengan mereka
di dunia dengan mereka
di akheratpun dengan mereka

Ya Robb
sebanyak apapun panjatan doa yang aku ucapkan
engkau yang lebih mengetahui
betapa aku mencintai mereka
betapa aku menyayangi mereka
betapa aku bersyukur atas adanya mereka disisiku


Monday, 12 November 2012

Anti Korupsi

Peran Serta Masyarakat dalam Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi
Korupsi, suatu bentuk pelanggaran yang sudah tidak asing lagi didengar. Begitu banyak kasus korupsi yang terjadi, mulai dari korupsi kelas “teri” sampai dengan korupsi kelas “kakap”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, korupsi adalah penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan dan sebagainya) untuk keuntungan pribadi atau orang lain; penggunaan waktu dinas (bekerja) untuk urusan pribadi. Dari pengertian tersebut dan kondisi fakta yang sudah ada, sangat jelas bahwa korupsi merugikan semua pihak. Berbagai usaha yang telah dilakukanpun dirasa masih kurang untuk mencegah terjadinya tindakan korupsi.
Di Indonesia, korupsi berkembang secara sistematik. Tidak hanya sebagai bentuk pelanggaran hukum, melainkan sudah menjadi budaya yang telah membudidaya. Jelas kondisi ini sangat mengkhawatirkan jika terus dibiarkan. Bisa membentuk karakter sebagai koruptor bagi bangsa. Seperti yang kita tahu, berbagai upaya telah dilakukan agar korupsi bisa dilenyapkan. Mulai dari media massa sampai suatu institusi pemerintah seperti Tim Tastipikor (tindak pidana korupsi). Namun pada kenyataan, dibentuknya berbagai institusi pemberantasan korupsi, belum bisa membuat para koruptor jera. Tentu hal ini membuat kita geram dengan permasalahan yang tidak pernah tuntas. Apalagi pelakunya yang paling sering adalah orang-orang besar, orang-orang yang mendapat amanah untuk menciptakan kemakmuran rakyat, orang-orang yang dipercaya mampu menegakkan keadilan. Sebagai generasi penerus, tentu tidak ingin permasalahan ini menjadi kebiasaan yang terus berkelanjutan. Jika korupsi-korupsi kecil dilakukan saat usia dini, tidak menutup kemungkinan akan menjadi korupsi besar yang merugikan bangsa di masa tua.
Dengan demikian, penting untuk menerapkan anti korupsi sejak dini. Penerapan ini bisa dan sebaiknya dimulai dari lingkungan yang paling kecil yaitu keluarga, karena dari lingkungan keluargalah sumber utama pembentukan karakter seseorang sebelum akhirnya terjun ke lingkungan yang lebih luas lagi. Bentuk-bentuk anti korupsi yang bisa diterapkan oleh keluarga berupa nilai-nilai dasar kehidupan bermasyarakat. Setiap anggota keluarga baik itu orang tua, anak, saudara dan yang lainnya harus bersikap disiplin dalam melakukan segala aktivitas di rumah, bertanggungjawab dengan sesuatu yang menjadi tanggung jawabnya, jujur dan adil. Disiplin bangun tepat waktu, mandi tepat waktu, bertanggung jawab dengan barang milik sendiri (seperti kamar tidur, pakaian). Jika mempunyai masalah dengan anggota keluarga diselesaikan dengan menegakkan keadilan dan jujur. Menggunakan alat listrik seperlunya, menggunakan air secara efisien. Jika diberi uang saku, dipergunakan sebaik-baik mungkin. Terutama jika dipergunakan untuk membayar keperluan sekolah, tidak boleh digunakan untuk membeli keperluan lain yang bersifat pribadi, dan masih banyak yang lainnya. Dalam hal ini, peran orang tua sangatlah penting karena sebagai teladan bagi anak-anaknya. Demi menciptakan keluarga yang menjunjung tinggi nilai-nilai kehidupan, sebaiknya orang tua membuat aturan yang harus dipatuhi oleh semua anggota keluarga. Bertindak tegas, dan adil bagi anggota keluarga yang lain yang melanggar peraturan yang telah disepakati bersama. Orang tua juga harus membentuk jadwal kegiatan apa-apa saja yang perlu dikerjaan di rumah. Dengan demikian, akan terciptalah sebuah keluarga yang teratur, yang disiplin, jujur, adil, dan menjunjung tinggi rasa tanggungjawab. Sehingga dengan sendirinya akan tertanam anti korupsi di lingkungan keluarga. Tentu saja hal ini tidak akan berjalan dengan baik jika tanpa kerjasama yang baik antar anggota keluarga. Begitu juga diperlukan kerjasama dengan lingkungan sekitar. Diharapkan dengan adanya penanaman nilai-nilai moral dan kehidupan sejak dini, dapat mencegah terjadinya korupsi. Karena jika korupsi yang kecil saja dianggap biasa, maka akan berdampak menjadi kebiasaan yang merugikan banyak pihak.
Penanaman nilai-nilai kehidupan dan anti korupsi di lingkungan keluarga tidak akan berjalan sesuai dengan yang diharapkan jika tanpa kerjasama dari lingkungan masyarakat sekitar. Misal saja lingkungan sekolah. Sekolah pun berperan aktif untuk turut serta dalam upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi dengan menanamkan nilai-nilai kehidupan dan anti korupsi pada murid, guru, dan juga karyawan sekolah. Sebaiknya hal ini dilakukan tidak hanya oleh sekolah tingkat dasar, tapi juga hingga perguruan tinggi. Bentuk-bentuk penanaman nilai-nilai kehidupan dan anti korupsi diantaranya menempel spanduk yang bertuliskan kata-kata anti korupsi di lingkungan sekolah. Bahasa yang digunakan disesuaikan dengan tingkat pendidikan sekolah, misal pada tingkat kanak-kanak digunakan bahasa yang lebih pada mengajak dengan gaya bahasa yang mudah dibaca dan dimengerti oleh anak usia dini. Begitu juga untuk sekolah tingkat menengah, dan juga tingkat perguruan tinggi.
Tidak hanya itu, penanaman anti korupsi juga dilakukan pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Misalkan dimasukkan pada salah satu matapelajaran atau matakuliah seperti pelajaran bahasa indonesia, kewarganegaraan, pendidikan agama, dan matapelajaran yang lain yang bersifat memberikan pendidikan moral dan nilai-nilai kehidupan. Karena dengan cara tersebut, siswa akan lebih mudah mengingat, apalagi jika ditambah dengan penilaian praktik, maka secara tidak langsung, jiwa anti korupsi akan tertanam pada diri mereka. Cara lain yang bisa digunakan misalnya pada saat ujian sekolah berlangsung, larangan untuk mencontek atau bentuk kecurangan lainnya harus digalakkan dengan ancaman hukuman, misal saja akan dikurangi nilainya atau bahkan tidak diluluskan pada matapelajaran yang sedang diujikan. Sebab, mencontek atau bentuk kecurangan lainnya dalam ujian bisa disebut sebagai korupsi meskipun dalam ruang lingkup yang kecil. Jika perbuatan yang tidak baik tersebut terus dibiarkan, maka akan menjadi kebiasaan yang tidak baik di masa mendatang. Sekilas cara ini terlihat tidak baik, karena ada unsur pemaksaan dan sanksi, bukan karena unsur kesadaran diri untuk anti korupsi. Pada dasarnya untuk memulai sesuatu yang baik menjadi suatu kebiasaan memang tidak mudah, sehingga pada awalnya harus dipaksa dulu, karena setelah itu akan menjadi biasa dengan sendirinya.
Disetiap sekolah, sudah pasti ada aturan-aturan yang dibuat dan untuk dipatuhi oleh seluruh warga sekolah dengan adanya sanksi-sanksi bagi mereka yang melanggar aturan tersebut. Jika masalah mencontek atau bentuk kecurangan lain yang dilarang dilakukan karena merupakan bentuk korupsi bagi siswa, maka bentuk korupsi yang bisa dilakukan oleh guru dan karyawan tergolong korupsi yang serius sehingga diperlukan sanksi yang lebih berat bagi yang melakukan. Untuk mencegah terjadinya korupsi dikalangan guru dan karyawan, maka diperlukan kepatuhan terhadap peraturan, kedisiplinan dalam bertugas, kerjasama yang baik diantara keduanya, dan jika diperlukan maka alangkah lebih baik dilakukan ikrar atau bersumpah untuk tidak melakukan pelanggaran. Karena bentuk korupsi yang dilakukan bisa dikategorikan tingkat tinggi, seperti sengaja datang terlambat mengajar, sengaja mengurangi jam pelajaran tanpa alasan yang jelas, sengaja melebihkan jam pelajaran, terlebih lagi jika tindakan korupsi yang berhubungan dengan administrasi. Sanksi-sanksi yang diberikan sebaiknya memang disesuaikan tingkat korupsi yang dilakukan. Sehingga untuk mencegah hal tersebut terjadi, bisa dilakukan dengan membentuk tim pengawasan demi terlaksananya peraturan sekolah dengan baik, saling mengingatkan diantara guru dan karyawan, disetiap ruangan baik dalam kelas maupun ruang guru dan kantor ditempel gambar-gambar atau tulisan yang mengingatkan untuk mendukung anti-korupsi. Jika ada yang mengetahui bahwa telah terjadi bentuk korupsi di sekolah, maka harus segera dilaporkan dan bersikap adil meskipun yang melakukan adalah orang yang sangat berpengaruh di lingkungan sekolah tersebut. Sehingga hal ini dapat membantu terhadap pemberantasan tindak korupsi di lingkungan sekolah.
Jika penerapan dan penanaman nilai-nilai kehidupan dan anti korupsi telah dilakukan di lingkungan keluarga dan sekolah, maka hal ini tidak akan berarti apa-apa jika tanpa adanya kerjasama dari masyarakat sekitar. Lingkungan masyarakat merupakan lingkungan yang lebih besar, karena didalamnya ada perangkat pemerintah, penegak hukum, dan sebagainya. Sudah tentu bentuk-bentuk penanaman anti korupsi harus lebih digalakkan lagi. Hal ini bisa dilakukan dengan seperti yang sudah dilakukan yaitu memasang iklan anti korupsi baik dalam media cetak maupun media elektronik, lebih meningkatkan kinerja dari institusi pemberantasan korupsi, sosialisasi mengenai pentingnya anti korupsi kepada masyarakat, dan sebagainya. Mungkin cara ini dianggap sudah tidak mampu lagi untuk membuat para koruptor jera, tapi harus tetap terus dilakukan, sebagai bentuk “marahnya” masyarakat terhadap para koruptor dan dengan harapan tidak akan muncul koruptor-koruptor baru. Bahkan kalau perlu, bagi mereka wakil rakyat yang melakukan korupsi, dijatuhi hukuman yang seberat-beratnya, bentuk kerugian yang diakibatkan harus diganti sesuai dengan besarnya kerugian tersebut. Tidak lain dalam hal ini adalah keadilan harus benar-benar ditegakkan, tidak pandang bulu, serta perlu ditanamkan rasa “malu” melanggar aturan, dan sebagainya. Langkah konkrit yang bisa dilakukan ialah membentuk tim pencegahan dan pemberantasan korupsi yang memilki komitmen yang tinggi di setiap elemen masyarakat mulai dari tingkat dusun, desa, kecamatan, kabupaten/kota, sebagai bentuk kerjasama dan kepedulian yang tinggi terhadap tindakan korupsi yang ada di Indonesia.

by : wahyuni ningsih